Minggu, 18 November 2018

# Experience # Papuan student

Wawancara Berfaedah

Petikan judul pada postingan kali ini kurang lebih dapat merepresentasikan pengalaman saya pada saat diwawancarai oleh teman-teman dari UGM pada hari minggu, 6 Mei 2018 bertempat di gedung didaktos UKDW Yogyakarta.
Photo by: Muhammad subhi
"Yogotak hubuluk motok hanorogo" merupakan motto kabupaten jayawijaya yang memiliki arti hari esok harus lebih baik dari hari ini. Hal ini sangat merepresentasikan hasil diskusi dan tanya jawab kami. Pada saat itu saya pribadi dimintai smita salah seorang dari kelompok mahasiswa UGM untuk menjadi narasumber yang akan mereka wawancarai menyangkut tugas mereka mengenai "Identitas dan Multikulturalisme".
Photo by: Smita Hanaya
Kebetulan topik yang mereka ambil berkaitan dengan Papua, bagaimana mahasiswa Papua yang datang kejogja dengan latar belakang budaya yang berbeda dapat beradaptasi dan kenapa memilih jogja sebagai tempat untuk belajar dan banyak pertanyaan lainnya yang ditanyakan kepada saya. 

Intinya dari semua pertanyaan tersebut dan jawaban yang telah saya berikan mengarah pada suatu kebaikan dimana kita menginginkan perubahan yang baik untuk Papua kedepan nya.

Saya datang dan berkuliah dijogja sebagai representasi saudara-saudari saya yang di Papua secara umum dan diwamena secara khusus yang belum mendapat kesempatan untuk bersekolah entah itu putus sekolah, kewalahan dana sekolah, dan beragam masalah yang menyebabkan mereka tidak bersekolah. 
Photo by: Smita Hanaya
Untuk itu segala stigma negatif yang disematkan seperti orang Papua pengacau, suka minum, bodoh, tidak bisa apa-apa dan lain sebagainya tidak menurunkan niat saya untuk tetap menimbah ilmu di Jogja. Karena tidak semua kita orang Papua melakukan hal sama, hanya segelintir orang yang melakukannya namun menjadi tanggung jawab kita bersama OAP untuk menyadarkan saudara/I kita yang masih melakukan hal-hal yang salah. Kemudian masalah perbedaan budaya, perbedaan orang, lingkungan dan lain sebagainya dapat kita atur sendiri agar nyaman karena kenyamanan itu kita sendiri yang ciptakan.

Maka sekali lagi pada saat wawancara saya tekankan bahwa kita semua manusia yang diciptakan serupa dengan Tuhan mempunyai organ-organ tubuh yang sama termasuk otak yang sama untuk berpikir sehingga tidak ada orang bodoh dan pintar namun apakah ada niat untuk berbuat lebih baik untuk hari esok atau hanya bermalas-malasan dan nyaman dengan keadaan saat ini.

Kemudian melihat dari segi sosial politik dan ekonomi terbilang bahwa Papua masih jauh dibawah standard kota-kota lain di Indonesia. Hal ini dikarenakan kurangnya pemerataan pembangunan baik sarana prasarana maupun sumber daya manusia nya. Namun masalah yang lebih besar dari itu bahwa bangsa ini tidak bisa menutup mata atas kasus-kasus HAM yang terjadi Di tanah Papua. Walaupun telah dibangun jalan dan sarana prasarana yang baik serta sumber daya manusia yang sudah maju, tapi apakah kita OAP akan bertahan sampai 40-50 tahun kedepan jika jumlah penduduknya jauh lebih banyak transmigrant dari luar Papua dan OAP banyak meninggal karena miras dan HIV/AIDS.

Akhir kata Mari kita bersama gandeng tangan rekatkan solidaritas dan sadar diri bahwa kita mempunyai tanggung jawab yang besar untuk membangun Papua dihari esok jauh lebih baik dari hari ini.

Semoga bermanfaat
Wa..wa..wa..











Tidak ada komentar:

Posting Komentar