Selasa, 20 November 2018

Hari anak Sedunia "Bagaimana Kabar Anak Papua"

November 20, 2018 0 Comments
Tiap tahunnya tepat pada hari ini 20 November, diperingati sebagai hari anak sedunia, Berbicara mengenai hari anak tentu tidak terlepas dari situasi dan kondisi anak-anak di seluruh belahan dunia, termasuk anak-anak di Papua. Saat ini issue/masalah yang sering dibicarakan dan menjadi tantangan bagi keberlangsungan hidup anak adalah STUNTING. Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang menyebabkan tinggi badan anak dibawah standar seusianya atau yang sering disebut "Anak Kerdil". Dari data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) "100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) " Volume II yang diterbitkan tahun 2017. Beberapa kabupaten/kota di Papua baik itu Papua Barat maupun Papua termasuk dalam kategori kota prioritas intervensi karena tingginya angka stunting pada anak seperti pada tabel berikut ini :


Dari data ini dapat dilihat kabupaten jayawijaya tercatat memiliki jumlah balita stunting hingga lebih dari 11 ribu jiwa, dibandingkan kabupaten lain yang angkanya dibawah 8 ribu jiwa. Namun tidak menutup kemungkinan adanya penambahan data karena kondisi lingkungan di Papua yang dapat pula membatasi tim medis untuk mendata dan kendala-kendala lainnya. Kemudian untuk angka kemiskinan menurut hemat saya sudah menjadi rahasia umum bahwa setelah otsus berjalan ditanah Papua, angka kemiskinan dihampir semua kabupaten/kota di Papua sangat tinggi. Papua dan Papua Barat menduduki No 1 dan 2 untuk jumlah penduduk miskin dari 34 provinsi yang ada di seluruh Indonesia. Kemudian data terbaru pada tahun ini yang diterbitkan agustus 2018 terjadi peningkatan jumlah kabupaten/kota prioritas dalam data TNP2K namun belum secara spesifik dijelaskan angka stunting dan kemiskinan di setiap kabupaten/kota tersebut. (Sedikit koreksi titik provinsi papua dan papua barat salah, mungkin editor ngantuk😉)



Selanjutnya dari data-data yang telah dilaporkan ini apa sih penyebab atau masalah utama anak stunting dan berada di bawah garis kemiskinan. Ada dua hal penyebab yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan saling berkaitan. Faktor intrinsik yaitu pentingnya kehidupan anak pada 1000 hari pertama anak yang merupakan masa "EMAS" dan Kritis bagi tumbuh kembang anak penjelasan selengkapnya pada gambar berikut

Sedangkan faktor ekstrinsik lebih luas dari pada itu karena melibatkan segala aspek kehidupan mulai dari bagaimana lingkungan dan pelayanan serta fasilitas yang mendukung kesehatan masyarakat terjamin khususnya ibu dan balita, kemudian akibat berapa di bawah garus kemiskinan menyebabkan ketersediaan pangan dalam rumah tangga tidak dapat dipenuhi yang berdampak pada kurangnya asupan gizi dalam keluarga, dan masalah paling dasar adalah situasi ekonomi dan politik dimana orang kesulitan untuk mendapat lapangan pekerjaan yang berakibat tidak dapat menyoking dan mengontrol pemasukan dan pengeluaran dalam keluarga sehingga hidupnya pas-pasan dan tidak dapat mencukupi kebutuhan gizi ibu dan anak yang sangat rentan pada masa emas dan kritis  . 

Tetapi jika berbicara real di Papua khususnya di Jayawijaya yang mana angka stunting balitanya paling tinggi tersebut disebabkan oleh pernikahan dini (usia dibawah 18 tahun) dan juga kebiasaan masyarakat yang sudah terlalu keenakan dengan beras raskin, bantuan langsung tunai (BLT), dana desa dsb. Hal ini yang sering saya temui menjadi masalah utama hingga menyebabkan korban terutama pada kaum perempuan dan anak. Kaitannya adalah pernikahan dini yang dialami perempuan muda entah karena cinta lalu kawin lari atau karena dijodohkan orang tua kemudian akhirnya menikah dan hamil otomatis organ reproduksi bahkan mental dari perempuan muda ini belum siap sehingga bisa berakibat pada kesehatan janin dan bayi yang akan lahir tersebut. Kemudian kebiasaan masyarakat khususnya kaum pria yang memonopoli uang bantuan bahkan beras raskin yang diterima kemudian dijual, uang-uang tersebut digunakan untuk berfoya-foya tanpa mengingat anak istri dirumah dan keberlanjutan dari uang agar api didapur terus mengepul tetapi langsung dihabiskan sesegera mungkin. Tidak mengeneralisir permasalahan ini namun terdapat beberapa orang yang mempraktekkan hal tersebut sehingga timbul suatu pemikiran bahwa apakah orang telah lupa apa jati dirinya? Adakah orang tua/leluhur yang menderita stunting? yang hidupnya susah sampai harus minta-minta proyek kepemerintah? yang hidupnya berfoya-foya dipasar tidak melihat kesengsaraan ibu dan anak dirumah?. Akibatnya apa tingkat pendidikan rendah, SDM jebol, tingginya anak kelabur/aibon yang berkeliaran dipusat-pusat keramaian (pasar jibama, ropan market, jalan irian) semuanya ini akan berdampak pada regenerasi penerus Papua yang terus menurun. 

Untuk itu demi keberlangsungan hidup, tumbuh kembang yang baik pada anak sebagai penerus dimasa depan, maka pemerintah dalam hal ini yang berperan penting untuk mendorong keberpihakan pada ibu dan anak balita pada masa emas dan kritisnya yaitu 1000 hari pertama, dengan memberikan kebijakan yang setidaknya ibu dan anak agar mendapat pelayanan yang terbaik sehingga stunting pada anak dapat teratasi. Kemudian pengelolaan uang oleh masyarakat harus dilakukan dengan sadar dan mawas diri serta tidak berfoya-foya demi kesenangan sesaat sehingga besoknya bingung mau mengasih makan anak istri dengan apa, akibatnya anak kelaparan kurang gizi dan stunting. Dilain sisi masyarakatpun harus mendudukkan kembali pola kebiasaan, dan kearifan lokal yang telah turun-temurun diajarkan dari leluhur kita. Saat-saat ini orang lebih mengejar uang, harta, kekayaan dan kepentingan pribadi lainnya, hal-hal ini kemudian membutakan mata untuk melihat realitas yang ada dilingkungan sekitar yang mana banyak anak mengalami stunting, tingkat kesehatan ibu rendah karena dipaksa kerja berlebihan, dan lain sebagainya. Ini kemudian menjadi PR bersama bagaimana dapat merubah pola pikir masyarakat yang hanya mementingkan diri sendiri untuk kemudian peduli terhadap lingkungan sekitar karena pada dasarnya orang Papua sangat berjiwa sosialis dan sangat peduli terhadap sesama.


Sumber :

Agustus 2017, 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia Available on http://www.tnp2k.go.id/images/uploads/downloads/Binder_Volume2-1.pdf

Agustus 2018, Gerakan Nasional Pencegahan Stunting dan Kerjasama Kemitraan Multi Sektor Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia/ Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) available in 
https://www.am2018bali.go.id/UserFiles/kemenkeu/News/Paparan%20Stunting%20Kemenkeu%202018web.pdf

Abas Basuni Jahari, 6-8 Maret 2018,  PENURUNAN MASALAH BALITA STUNTING, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Available on http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/materi%20pra%20rakerkesnas%202018/Pakar%20Stunting.pdf


Minggu, 18 November 2018

Penyu Belimbing "WOMOM"

November 18, 2018 0 Comments
Hallo guys,,terhitung sudah genap dua bulan lamanya penulis tidak memberikan diari atau tulisan opini singkat, bukan apa-apa hanya sedikit sibuk dengan beberapa kegiatan yang kadang berfaedah kadang juga tidak berfaedah.

Pada postingan kali ini penulis ingin membagikan mengenai pengalaman mengikuti kegiatan "para-para pinang, pentas seni dan diskusi konservasi penyu belimbing" yang diadakan di Asrama Tambraw Yogyakarta. Kegiatan dilakukan pada hari rabu, 25 juli 2018 pukul 17.00-20.00 WIB dengan narasumber Bapak Yohanes Sundoy kegiatan dimulai dengan doa dan pemutaran film dokumenter mengenai konservasi penyu belimbing di Tambraw. Inti dari pemutaran film ini adalah telah diadakannya prosesi adat yang mana menghasilkan kembalinya penyu belimbing ke pantai setelah hampir 23 tahun yaitu dari 1992-2015 penyu belimbing tidak bertelur di pesisir pantai jamursba medi .

Menurut penjelasan bapak Yohanes yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melalukan konservasi penyu konon terdapat cerita rakyat bahwasanya terdapat sebuah keluarga yang bertengkar sehingga sang suami pergi meninggakan keluarganya melewati gunung dan hutan menuju pantai. Dia bernama rumah batu  bersama dengan anjing peliharaannya kemudian pada suatu hari anjing tersebut memakan penyu belimbing yang beliau sebut juga dewa laut. Sehingga heranlah dia karena sudah beberapa lama dewa laut tidak menampakkan diri dipantai. Maka pergilah dia menemui tua-tua adat dan berkata "mengapa dewa laut tidak menampakan muka dipantai" lalu berkatalah tua-tua adat bahwa beliau telah melakukan kesalahan sehingga harus melakukan adat untuk memanggil sang dewa laut alias penyu belimbing tersebut. Alhasil dewa laut pun datang dan rumah batu berjanji untuk menjaga dewa laut maka merekapun dikatakan seperti suami istri dan rumah batu menjadi seperti batu karang ditengah pantai dan disebelahnya terdapat batu karang yang mirip juga dengan punyu belimbing atau dewa laut.


Dari cerita rakyat ini sudah bisa diambil maknanya bagaimana konservasi penyu belimbing dilakukan di tambraw. Maka kearifan-kearifan lokal seperti ini harus dipertahankan dan dijaga agar hidup berdampingan dengan damai dan aman. Sehingga selama 20 tahun terakhir bapak Yohannes telah mempelajari dan mengajak masyarakat untuk memanggil kembali penyu belimbing dengan dilakukannya prosesi adat. Dan pada tahun 2015 pertama kalinya penyu belimbing kembali lagi ke pantai jamursba medi dan bertelur dipantai ini. Saat ini pantai jamusrba medi sudah disebut dengan nama jeen womom dan ditetapkan sebagai lokasi konservasi penyu baik itu penyu belimbing, penyu hijau, penyu sisik dan lekang. Womom berarti penyu dalam bahasa tambraw

Semoga bermanfaat
Wa..wa..wa..


Wawancara Berfaedah

November 18, 2018 0 Comments
Petikan judul pada postingan kali ini kurang lebih dapat merepresentasikan pengalaman saya pada saat diwawancarai oleh teman-teman dari UGM pada hari minggu, 6 Mei 2018 bertempat di gedung didaktos UKDW Yogyakarta.
Photo by: Muhammad subhi
"Yogotak hubuluk motok hanorogo" merupakan motto kabupaten jayawijaya yang memiliki arti hari esok harus lebih baik dari hari ini. Hal ini sangat merepresentasikan hasil diskusi dan tanya jawab kami. Pada saat itu saya pribadi dimintai smita salah seorang dari kelompok mahasiswa UGM untuk menjadi narasumber yang akan mereka wawancarai menyangkut tugas mereka mengenai "Identitas dan Multikulturalisme".
Photo by: Smita Hanaya
Kebetulan topik yang mereka ambil berkaitan dengan Papua, bagaimana mahasiswa Papua yang datang kejogja dengan latar belakang budaya yang berbeda dapat beradaptasi dan kenapa memilih jogja sebagai tempat untuk belajar dan banyak pertanyaan lainnya yang ditanyakan kepada saya. 

Intinya dari semua pertanyaan tersebut dan jawaban yang telah saya berikan mengarah pada suatu kebaikan dimana kita menginginkan perubahan yang baik untuk Papua kedepan nya.

Saya datang dan berkuliah dijogja sebagai representasi saudara-saudari saya yang di Papua secara umum dan diwamena secara khusus yang belum mendapat kesempatan untuk bersekolah entah itu putus sekolah, kewalahan dana sekolah, dan beragam masalah yang menyebabkan mereka tidak bersekolah. 
Photo by: Smita Hanaya
Untuk itu segala stigma negatif yang disematkan seperti orang Papua pengacau, suka minum, bodoh, tidak bisa apa-apa dan lain sebagainya tidak menurunkan niat saya untuk tetap menimbah ilmu di Jogja. Karena tidak semua kita orang Papua melakukan hal sama, hanya segelintir orang yang melakukannya namun menjadi tanggung jawab kita bersama OAP untuk menyadarkan saudara/I kita yang masih melakukan hal-hal yang salah. Kemudian masalah perbedaan budaya, perbedaan orang, lingkungan dan lain sebagainya dapat kita atur sendiri agar nyaman karena kenyamanan itu kita sendiri yang ciptakan.

Maka sekali lagi pada saat wawancara saya tekankan bahwa kita semua manusia yang diciptakan serupa dengan Tuhan mempunyai organ-organ tubuh yang sama termasuk otak yang sama untuk berpikir sehingga tidak ada orang bodoh dan pintar namun apakah ada niat untuk berbuat lebih baik untuk hari esok atau hanya bermalas-malasan dan nyaman dengan keadaan saat ini.

Kemudian melihat dari segi sosial politik dan ekonomi terbilang bahwa Papua masih jauh dibawah standard kota-kota lain di Indonesia. Hal ini dikarenakan kurangnya pemerataan pembangunan baik sarana prasarana maupun sumber daya manusia nya. Namun masalah yang lebih besar dari itu bahwa bangsa ini tidak bisa menutup mata atas kasus-kasus HAM yang terjadi Di tanah Papua. Walaupun telah dibangun jalan dan sarana prasarana yang baik serta sumber daya manusia yang sudah maju, tapi apakah kita OAP akan bertahan sampai 40-50 tahun kedepan jika jumlah penduduknya jauh lebih banyak transmigrant dari luar Papua dan OAP banyak meninggal karena miras dan HIV/AIDS.

Akhir kata Mari kita bersama gandeng tangan rekatkan solidaritas dan sadar diri bahwa kita mempunyai tanggung jawab yang besar untuk membangun Papua dihari esok jauh lebih baik dari hari ini.

Semoga bermanfaat
Wa..wa..wa..











My Daddy My Hero

November 18, 2018 0 Comments
Gambar : Ilustrasi (Google)
Syalom guys... Semua dari kita pasti punya orang tua yang terdiri dari ayah dan ibu. Mereka membangun suatu hubungan yang kemudian melahirkan buah cinta mereka yaitu anak-anak. 

Pada postingan Kali ini saya ingin membahas tentang ayah. Bagi saya ayah mempunyai peran sangat penting bagi kehidupan saya walaupun ayah saya dipanggil Tuhan tahun 2007 pada waktu usia saya baru menginjak 11 tahun. 

Ayah saya bukan orang besar pejabat pemangku kuasa dan lain sebagainya namun beliau merupakan raja di hati saya. Bagi saya kerendahan hati,kesabaran, dan kemurahan hati beliau membuat banyak orang sayang dan peduli kepadanya. 

Ayah sosok yang membuat saya belajar bahwa kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan, namun dengan kebaikan. Kemarahan tidak harus dibalas dengan kemarahan namun dengan senyuman. Caci maki tidak harus dibalas dengan caci maki namun dengan tutur kata yang baik. 

Dengan sepeda ontelnya beliau selalu mengantarkan saya ke TK. Effata dan SD Impress Mulele Wamena dengan tidak kenal lelah setelah pagi hari menyelesaikan pekerjaan kebun disamping rumah kemudian mengantarkan saya dan masuk kantor Perindagkop. 

Dari beliau saya belajar artinya kerja keras dan semangat hidup tanpa pamrih dan pantang menyerah. Ketiga anaknya (kakak saya) bersekolah di pulau jawa pada tahun 90-an dan beliau masih bisa mengelola keuangan walaupun dengan gali lobang tutup lobang alias utang. 

Sekarang saat mereka sudah sukses hasil keringat beliau belum benar-benar beliau terima Karena telah pergi. Namun walau bagaimanapun bagi kami anak-anaknya, beliau selalu hidup dihati kami dan berjalan bersama kami mengarahkan kami sehingga tidak jatuh atau keluar dari jalur maka jalan kami lurus dan tidak berliku-liku. 

 Tulisan ini saya persembahkan untuk ayah-ayah maupun calon ayah-ayah hebat yang sangat setia dan pekerja keras dalam keluarga, membangun setiap anggota keluarganya menjadi pribadi yang baik dan berkarakter baik, berakhlak dan berbudi pekerti.

Pameran Poster "BIofarmasi & Analisa Resiko Kesehatan" di Gedung IAMA UKDW

November 18, 2018 0 Comments
Foto : Usai Pameran
Syalom guys.. 
Pada blog kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai kegiatan pameran yang dilakukan di Gedung Iama Universitas Kristen Duta Wacana Pada hari Senin, 21 Mei 2018. 

Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa bioteknologi angkatan 2015 dalam rangka memenuhi tugas matakuliah Biofarmasi dan Analisa Resiko Kesehatan yang di ampuh Dosen Matakuliah drh. Djohan MEM.Ph,D. 

Dimulai dari pukul 08.00-17.00 WIB kegiatan ini banyak memberikan informasi yang berguna bagi mahasiswa bioteknologi yang datang mengikuti kegiatan pameran termasuk saya. 

Dari hampir dua puluhan kelompok yang mengikuti pameran saya hanya berkesempatan untuk mendengarkan penjelasan dari 4 kelompok. 

Kelompok pertama terdiri dari 3 orang yaitu Josefina Lesnusa, Junengsi C. Dakhoklory dan Natalia Sibariang. Mereka memilih topik "Obat Batuk Basah" untuk matakuliah biofarmasi dan "Cacing dalam Sarden" untuk matakuliah ARK. 

Kelompok kedua terdiri dari 3 orang yaitu Anngriani Hanni, Yohani Aprilia S dan Claudia Astari. Kelompok ini memilih topik "Obat Diare" untuk matakuliah biofarmasi dan "Residu Antibiotik pada Daging Ayam" untuk matakuliah ARK.

Kelompok ketiga terdiri dari 4 orang yaitu Tecla Annabella, Awasien Matrruty, Eka Kurniaty dan Yubelina Imbenay. Topik yang dipilih yaitu "Ottopain Obat Tetes Telinga" untuk matakuliah biofarmasi dan "1,4 Dikholorobenzene di Rumah dan Kantor" untuk matakuliah ARK. 
Photo by: Josefina

Kemudian kelompok terakhir terdiri dari 3 orang yaitu Marien A.S.P, Dissa Christalonika dan Maria H. Ohoira. Mereka membahas tentang "Obat Anti Penuaan" untuk matakuliah biofarmasi dan "Pemaparan Dioxin Pada Pembalut" untuk matakuliah ARK. 

Disini saya tidak akan membahas lebih detail kesemua topik yang kami diskusikan namun secara umum akan saya jelaskan mengenai apa saja yang kami pelajari dengan bertukar informasi dari poster yang telah mereka buat. 

Pada poster biofarmasi secara umum keempat kelompok ini harus mengetahui bahan aktif dari setiap obat yang mereka bahas, kemudian ada incipient atau bahan tambahan obat dan fungsinya seperti apa. Selain itu dalam ilmu biofarmasi ada FARMAKOKINETIKA dan FARMAKODINAMIKA dari semua obat. Kedua hal tersebut menjelaskan masuknya obat dari absospsi hingga eliminasi dan respon tubuh terhadap obat yang masuk kedalam tubuh apakah menyebabkan efek terapeutik atau justru sebaliknya menyebabkan kontraindikasi. 

Kemudian pada poster ARK (Analisa Resiko Kesehatan) keempat kelompok penyaji poster menyampaikan topik yang berbeda-beda namun secara umum tidak terlepas dari bahan-bahan berbahaya apa saja yang dapat menyebabkan efek jangka pendek maupun panjang pada manusia yang terpapar sumber pencemaran. 
Photo by: Claudya

Pada kelompok pertama yang membahas "Cacing dalam Sarden" sudah terjadi kasus di Riau bahwa Badan POM telah menarik sarden yang telah mengandung cacing agar masyarakat tidak terkena efek samping dari sarden yang telah mengandung cacing ini. 

Diduga cacing tersebut berasal dari ikan yang digunakan dalam pembuatan sarden yang tidak mati pada saat dimasak dengan suhu tinggi, namun tidak menutup kemungkinan bahwa kontaminan cacing dapat masuk melalui bahan-bahan tambahan dalam sarden seperti tomat bawang dan lain sebagainya. Kemudian pada kelompok 2 yang membahas tentang "Residu Antibiotik pada Daging Ayam" menyebutkan terdapat beberapa antibiotik yang sering dipakai pedagang ayam agar daging ayam yang dijual tetap baik. 

Namun penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat menyebabkan efek pada manusia yang memakannya karena dapat menyebabkan gagal ginjal dan gangguan organ tubuh lainnya. Sehingga harus pilah pilih ayam yang baik jika kepasar karena banyak pedagang-pedagang nakal yang tidak mengikuti aturan dan menggunakan antibiotik pada ayam secara berlebihan. Kelompok ketiga membahas tentang "1,4 Dikhrolorobenzene di Rumah dan Kantor" yang mana bahan ini sering digunakan pada bahan-bahan seperti kapur barus, pengharum ruangan, dan juga pada bahan-bahan pangan. 
Photo by: Efraim
Pemaparan yang terus menerus terjadi dan melebihi batas normal baik melalui inhalasi maupun oral dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Kemudian kelompok terakhir membahas tentang "Dioxin pada Pembalut" telah kita ketahui bersama pembalut setiap bulan digunakan oleh para wanita diseluruh belahan dunia. Ternyata terdapat salah satu bahan berbahaya yang digunakan dalam pembuatan pembalut yaitu Dioxin, bahan ini digunakan untuk memutihkan bahan kertas yang digunakan dalam pembuatan pembalut. 

Efek sampingnya yaitu dapat menyebabkan kanker serviks untuk itu melihat fenomena kanker serviks yang banyak di Indonesia ada baiknya pemerintah melalui lembaga pendidikan dapat melakukan penelitian mengenai kandungan dioxin pada pembalut-pembalut yang beredar di Indonesia. Karena belum ada standar penggunaan dioxin di Indonesia khusunya pada pembalut, karena bahkan di luar negeri telah ditulis pembalut ini free dioxin. Akhir kata terimakasih buat mahasiswa bioteknologi angkatan 2015 yang telah menyelenggarakan pameran dan sudah berbagi ilmu yang dipelajari. 
Kemudian terimakasih juga kepada bapak Djohan selaku pengampuh matakuliah yang telah memilih topik-topik yang sangat berguna dan bermanfaat untuk dipelajari mahasiswa dan kemudian berguna untuk kehidupan sehari-hari.  

Semoga bermanfaat 
wa,,wa,,wa,,😊

Curhat Berfaedah

November 18, 2018 0 Comments
Syalom guys,,, 

Dalam tulisan blog kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman pribadi saya dan beberapa teman tentang menghadapi suatu "Masalah". 

Ada sebuah quote atau kata mutiara yang berbunyi "Ideas are more powerfull than fire", yang kemudian saya pahami bahwa walaupun api itu panas dan dapat membakar benda-benda disekitarnya hingga menjadi abu dan habis, ide lebih kuat dari itu karena dapat membakar jiwa akal budi dan pikiran untuk menjadi orang yang lebih baik dan dapat melakukan sesuatu sehingga tidak habis begitu saja. 

Untuk itu semangat kawan jika hari ini gagal masih ada hari esok yang lebih baik,tergantung kita menanggapi setiap masalah yang dihadapi sebagai batu sandungan kemudian terjatuh atau masalah tersebut sebagai batu loncatan sehingga kita menjadi setingkat diatas atau naik kelas. 

Semoga bermanfaat Wa,,Wa,,Wa,,😊

Bioremediasi "Berkaca dari Pseudomonas sp."

November 18, 2018 0 Comments
Tugas matakuliah restorasi lingkungan mengharuskan sahabat saya Alin Dxs dan Esti Kunda Matulessy mempresentasikan hasil pemahaman mereka tentang journal yang berjudul "Pseudomonas in Biodegradation". 

Bertempat Di kos saya, kami bertiga berdiskusi sekitar sejam mulai dari pukul 20.30 sampai 21.30 mengenai journal ini. Saya pribadi merasa sangat kagum dengan peran dari Bakteri Pseudomonas sp. karena bakteri ini sebagai agen degradasi dan remediasi dari beberapa kontaminan yang sering ditemukan di lingkungan. 

Bakteri ini berperan aktif dalam proses remediasi karena memetabolis atau mengolah polutan atau bahan-bahan beracun yang membahayakan lingkungan tersebut. 

Bahan-bahan ini berdampak pula pada kelangsungan hidup suatu ekosistem dan organisme didalamnya bahkan manusia karena bersifat karsinogen. 

 Bakteri Pseudomonas sp. akan menggunakan kontaminan tersebut sebagai sumber energi dan menghasilkan kandungan yang lebih sederhana sebagai produk akhir metabolisme seperti CO2, air, dan turunan kontaminan yang lebih simple dan mudah diterima lingkungan. 

 Selain bakteri bahan kontaminan atau polutan juga bisa didetoksifikasi atau diremediasi oleh beberapa jenis jamur dan tanaman tertentu sehingga membuat lingkungan kita menjadi hijau kembali dan bebas dari polutan.


Ketika kita berkaca dari bakteri Pseudomonas sp. terkadang kita juga selalu mengkonsumsi atau memetabolisme kontaminan atau sampah dalam kehidupan kita (amarah,dengki,kebencian DLL) namun terkadang kita tidak mengolahnya dengan baik seperti halnya bakteri dan mengeluarkan produk akhir berupa kasih, damai dan sukacita. Namun terkadang kita mengeluarkan kepahitan-kepahitan yang kita alami dalam kehidupan kita sehingga turut dirasakan oleh orang-orang dan lingkungan sekitar kita. 

Maka sebaiknya kita belajar dari bakteri Pseudomonas sp. agar seburuk atau seberat apapun konsumsi kontaminan dari lingkungan kita entah itu kemarahan cacian makian dll..Secara pribadi kita dapat memetabolismenya dengan baik agar produk akhir dari kesemuanya atau yang keluar dari mulut gerak gerik dan perilaku kita tidak menyakiti lingkungan dan orang-orang disekitar kita. 

Karena kesemuanya yang terjadi dalam hidup kita pasti mempunyai makna dan tujuan tersendiri tergantung bagaimana persepsi dan tanggapan serta respon kita mengenai hal tersebut. Apakah kita memilih menanggapinya secara positif atau negatif. Kesemuanya itu melibatkan pilihan dengan bantuan akal budi dan nalar kita dapat memilah milih, menimang-nimang apa yang baik dan benar juga apa yang buruk dan salah. 

Semoga bermanfaat Wa..wa..wa.. 😊

Ayo CERDIK, sayangi jantungmu biar OKE terus!

November 18, 2018 0 Comments
Foto : Saat Penyampaian Materi
Pada hari Sabtu, 12 Mei 2018 saya dan kk Melina mengikuti seminar umum yang diadakan oleh mahasiswa FKK UGM dengan tema "Deteksi Dini Penyakit Jantung Dan Pencegahan Serangan Jantung". Saya ingin berbagi tentang yang saya dapat kan pada seminar ini. Pada saat itu terdapat 3 pembicara yang belum sempat saya tulis namanya dan lupa karena tidak ditulis di panduan seminar. Pada foto pertama dibawah ini merupakan pembicara ketiga beliau merupakan seorang Dokter ahli jantung Di RSUP Sardjito Yogyakarta.

Penyakit jantung merupakan suatu penyakit yang umumnya dialami oleh orang lanjut usia karena fungsi kerja jantung yang menurun. Namun yang menjadi masalah saat ini menurut hemat beliau yaitu penyakit jantung bisa terjadi pada usia muda yaitu 20-35 tahun akibat beberapa faktor resiko. Salah satu pasien yang beliau tangani merupakan mahasiswa tingkat akhir yang berumur 24 tahun. Bahkan di Indonesia penyakit jantung merupakan penyebab kematian paling tinggi di Indonesia. Faktor-faktor resiko yang dapat menyebabkan penyakit jantung yaitu :
1. Konsumsi rokok
2. Berat badan berlebihan atau obesitas
3. Stress
4. Kurang aktifitas fisik
5. Memakan makanan dengan gizi yang kurang seimbang.

Dari kelima faktor resiko ini muncullah slogan CERDIK yang dibuat guna menyadarkan masyarakat agar menjaga pola hidup agar tidak terkena penyakit jantung yaitu C:Cek Kesehatan E:Enyahkan Rokok R:Rajin aktifitas fisik D: Diet yang seimbang I: Istirahat cukup K: Kelola stress.

Maka kesadaran diri dari masyarakat itu sendiri bahwa penyakit jantung akan terjadi jika melakukan pola hidup yang beresiko diantaranya merokok ataupun menjadi perokok pasif,konsumsi alkohol, stress berlebihan,jarang istirahat,mengkonsumsi makanan yang gizinya kurang seimbang, dan jarang berolahraga menjadi sangat penting. Karena kesemuanya memiliki efek atau imbas yang berbeda-beda kepada jantung kita. Istilahnya yaitu terjadi penyempitan di aorta jantung sehingga jantung menjadi lapar atau tidak ada asupan energi. Hal ini menyebabkan jantung sakit ataupun memberikan efek terhadap organ lainnya. Jika kasusnya pasien perokok berat terdapat beberapa kandungan dari rokok yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah di area jantung. Kemudian jika kasusnya kelebihan lemak maka diumpamakan seperti pipa air ledeng jika pertama digunakan masih lentur dan air keluar dengan lancar tidak ada hambatan lama-kelamaan akan muncul kerak entah itu dari lumut atau sisa kotoran dari air yang menyebabkan pipa air tidak lentur dan aliran air yang keluar tidak lancar lagi. Sama halnya dengan pembuluh darah jika terus menerus terjadi penumpukan lemak maka pembuluh darah akan kaku dan terjadi kerusakan pada pembuluh darah itu sehingga terdapat hormon2 pembekuan yang aktif bekerja (thombopoesis) sehingga bisa terjadi penyumbatan dipembuluh darah pada aorta jantung.


Kemudian untuk faktor resiko lainnya berkaitan dengan gender bahwa Pria lebih mudah terkena penyakit jantung dibandingkan wanita dan Wanita juga beresiko namun pada usia 40 tahun keatas yaitu pada masa menopause. Selain itu jantung bukan merupakan penyakit keturunan dari genetik namun bisa saja dari riwayat keluarga ada yang terkena penyakit jantung dan kita masih hidup dengan pola hidup beresiko penyakit jantung maka bisa saja kitapun sakit.

Mati itu pasti namun cara kita untuk kesana apalagi pada saat usia muda hanya Karena pola hidup yang salah merupakan suatu kefatalan yang akan terus disesali karena masih banyak hal yang perlu kita lakukan apalagi Di USIA muda yang produktif.

Semoga bermanfaat
Wa..Wa..wa..