Rabu, 02 Desember 2020

RIP

Desember 02, 2020 0 Comments

 

Hidup dan mati memang rahasia Tuhan, setiap hari ada kelahiran dan kematian. Hidup dan mati adalah pasti. Hari ini saya merasa maut itu dekat untuk kita orang Papua, sepanjang perjalanan pulang belanja dipasar tadi saya melihat tiga rumah duka yang jaraknya tidak begitu jauh. Apa salah dan dosa kita sehingga hidup terasa singkat dan tak bermakna, masyarakat bahkan pejabat dan pembesar ditanah ini  mati sebelum mekar. Banyak peristiwa menyayat hati yang berkaitan dengan mati dan hidup ini.

Hari ini dua tahun lalu masyarakat nduga terkocar kacir karena tanah dan kampungnya dijadikan lahan operasi militer. Masyarakat mengungsi meninggalkan kampung halaman dalam perjalanan yang penuh ketakutan ditemani panas terik dan kedinginan malam. Hingga saat ini para pengungsi tetap tinggal di kamp-kamp pengungsi. Ada anak yang lahir ditengah hutan saat sang ibu dalam perjalanan ketempat aman dan diberi nama pengungsi. Ada orang yang mati ditengah jalan karena kelaparan dan sakit.  Tidak hanya berhenti di Nduga yang sampai saat ini masih mengungsi, operasi militer ini tetap digencarkan dibeberapa tempat lainnnya yaitu masyarakat banti di Tembagapura dan masyarakat Intan jaya selepas adanya penembakan dikedua daerah tersebut.

Sayang seribu sayang nyawa harta dan tahta di Papua ini bagaikan duri dalam daging. Entah sampai kapan penderitaan ini berakhir yang saya tahu dan sadari bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.

Selasa, 01 Desember 2020

Doa Hati Kecil

Desember 01, 2020 0 Comments

 

Hari pertama di bulan terakhir dalam kalender tahun ini. Awal dan akhir selalu berkesan dalam kehidupan kita. Setiap momen dalam kehidupan ini, entah itu momen bahagia, semangat, sedih, sakit, susah, pasrah, putus asa, dan lain sebagainya. Dengan demikian kita selalu berhadapan dengan pilihan, entah pengambilan keputusan tersebut diambil saat awal atau akhir selalu menyebabkan dampak baik dan buruk. Dua hal ini berjalan berdampingan ada awal ada akhir, ada baik ada buruk, dan ada sebab ada akibat. Manusia tidak pernah dan tidak akan berjalan tanpa salah satunya. Bersyukur akan hidup ini kita sampai dipenghujung tahun, hari ini 59 tahun silam terbentuk embrio Negara Papua Barat, hari ini 33 tahun silam tercetus program pencegahan AIDS, hari ini juga kebanyakan umat kristiani menyambut gerbang natal kelahiran Yesus.

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Embrio sejak 59 tahun lalu selalu bertumbuh dia menjadi fetus dan siap dilahirkan. Dalam prosesnya selalu dihambat oleh sang ibu dan ayah yang ingin tidak ingin melahirkannya, tidak ingin menjadi tua dan mati dalam kandungan sang embrio melawan. Tapi apa daya jika ukuran embrio 2 – 4 mm diukur dari bagian atas kepala sampai bokong berbanding ukuran ayah dan ibu yang rata-rata sekitar 1,6 m (5-6 kaki). Tercengkeram ia terpaksa dan dipaksa untuk hidup dalam rahim walau usia terlampau tua dan plasenta semakin menipis. Harapan dan doa selalu dipanjatkan hingga saat yang dinanti akan datang mendekat sehingga keberlangsungan hidup anak cucu akan baik-baik saja.

Berkaitan dengan anak cucu sudah sejak lama AIDS menjadi momok ditanah Papua banyak anak muda, dan bahkan orang tua menjadi korban. 11/12 dengan virus korona yang merebak akhir tahun lalu 2019 dan banyak memakan korban ditahun ini. Ada ketakutan penularan yang sangat dasyat sehingga banyak penolakan untuk menghindari orang dengan AIDS atau ODHA dan orang dengan corona. Dua penyakit ini sama-sama disebabkan oleh virus dan menyerang bagian paling vital yaitu kekebalan tubuh dan pernapasan. Virus tak kasat mata ukurannya sangat kecil berkisar 20-300 nanometer,virus hanya bisa dilihat dengan mikroskop electron. Sekecil itu tapi mengapa bisa memberi dampak yang besar bahkan mematikan, hal ini dikarenakan virus adalah agen infeksi yang bereproduksi dalam sel kita, memaksa sel dalam tubuh kita untuk memproduksi ribuan salinan gen virus dalam sel kita dan menyebabkan infeksi bertambah parah. Untungnya setiap virus bekerja spesifik kepada sel atau jaringan yang akan mereka serang kemudian bereproduksi sehingga bisa cepat dikenali dan melakukan pengobatan. Untuk itu tidak perlu takut malu minder dan merasa putus harapan, lakukan pencegahan kenali penyebabnya dan lakukan pengobatan. Semua orang punya hak hidup yang sama ko tra kosong kalo ko jaga diri.

Hari ini juga hingar bingar menyambut gerbang natal didendangkan, tentu ada sukacita dan harapan besar bahwa Dia sang mesias dan juruselamat akan hadir ditengah-tengah kita. Natal membawa harapan dan kesukaan besar bagi umat kristiani dan banyak hal yang dapat dipetik dari momen ini. Pertama bunda Maria yang bersedia dan berkata “aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku seturut kehendakMu’ merupakan bukti kesediaan bunda Maria kepada Allah dalam karya penyelamatan-Nya, Kedua Santo Yosep menerima tanggung jawab panggilannya menjadi suami yang setia dan siap siaga mengayomi keluarganya. Ketiga kelahiran Yesus sang mesias dan juruselamat dikandang kota betlehem yang sederhana dan jauh dari kemewahan mengajarkan kita untuk tetap rendah hati. Sang mesias datang bukan hanya untuk orang pejabat, orang berduit, dan orang yang punya segala harta dan tahta, tetapi juga untuk orang tertindas, budak, buruh, dan orang yang sering dipandang sebelah mata.

Dari ketiga momen diatas dapat disimpulkan bahwa mengawali ataupun mengakhiri sesuatu dalam hidup dan bersinggungan dengan kesulitan yakin dan percaya ada jalan dan makna dibalik itu.  Semoga hari ini dan seterusnya kita hidup damai aman nyaman dan indah tanpa keterpaksaan, kepahitan, dan ketertindasan.

Selasa, 20 November 2018

Hari anak Sedunia "Bagaimana Kabar Anak Papua"

November 20, 2018 0 Comments
Tiap tahunnya tepat pada hari ini 20 November, diperingati sebagai hari anak sedunia, Berbicara mengenai hari anak tentu tidak terlepas dari situasi dan kondisi anak-anak di seluruh belahan dunia, termasuk anak-anak di Papua. Saat ini issue/masalah yang sering dibicarakan dan menjadi tantangan bagi keberlangsungan hidup anak adalah STUNTING. Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang menyebabkan tinggi badan anak dibawah standar seusianya atau yang sering disebut "Anak Kerdil". Dari data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) "100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) " Volume II yang diterbitkan tahun 2017. Beberapa kabupaten/kota di Papua baik itu Papua Barat maupun Papua termasuk dalam kategori kota prioritas intervensi karena tingginya angka stunting pada anak seperti pada tabel berikut ini :


Dari data ini dapat dilihat kabupaten jayawijaya tercatat memiliki jumlah balita stunting hingga lebih dari 11 ribu jiwa, dibandingkan kabupaten lain yang angkanya dibawah 8 ribu jiwa. Namun tidak menutup kemungkinan adanya penambahan data karena kondisi lingkungan di Papua yang dapat pula membatasi tim medis untuk mendata dan kendala-kendala lainnya. Kemudian untuk angka kemiskinan menurut hemat saya sudah menjadi rahasia umum bahwa setelah otsus berjalan ditanah Papua, angka kemiskinan dihampir semua kabupaten/kota di Papua sangat tinggi. Papua dan Papua Barat menduduki No 1 dan 2 untuk jumlah penduduk miskin dari 34 provinsi yang ada di seluruh Indonesia. Kemudian data terbaru pada tahun ini yang diterbitkan agustus 2018 terjadi peningkatan jumlah kabupaten/kota prioritas dalam data TNP2K namun belum secara spesifik dijelaskan angka stunting dan kemiskinan di setiap kabupaten/kota tersebut. (Sedikit koreksi titik provinsi papua dan papua barat salah, mungkin editor ngantuk😉)



Selanjutnya dari data-data yang telah dilaporkan ini apa sih penyebab atau masalah utama anak stunting dan berada di bawah garis kemiskinan. Ada dua hal penyebab yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan saling berkaitan. Faktor intrinsik yaitu pentingnya kehidupan anak pada 1000 hari pertama anak yang merupakan masa "EMAS" dan Kritis bagi tumbuh kembang anak penjelasan selengkapnya pada gambar berikut

Sedangkan faktor ekstrinsik lebih luas dari pada itu karena melibatkan segala aspek kehidupan mulai dari bagaimana lingkungan dan pelayanan serta fasilitas yang mendukung kesehatan masyarakat terjamin khususnya ibu dan balita, kemudian akibat berapa di bawah garus kemiskinan menyebabkan ketersediaan pangan dalam rumah tangga tidak dapat dipenuhi yang berdampak pada kurangnya asupan gizi dalam keluarga, dan masalah paling dasar adalah situasi ekonomi dan politik dimana orang kesulitan untuk mendapat lapangan pekerjaan yang berakibat tidak dapat menyoking dan mengontrol pemasukan dan pengeluaran dalam keluarga sehingga hidupnya pas-pasan dan tidak dapat mencukupi kebutuhan gizi ibu dan anak yang sangat rentan pada masa emas dan kritis  . 

Tetapi jika berbicara real di Papua khususnya di Jayawijaya yang mana angka stunting balitanya paling tinggi tersebut disebabkan oleh pernikahan dini (usia dibawah 18 tahun) dan juga kebiasaan masyarakat yang sudah terlalu keenakan dengan beras raskin, bantuan langsung tunai (BLT), dana desa dsb. Hal ini yang sering saya temui menjadi masalah utama hingga menyebabkan korban terutama pada kaum perempuan dan anak. Kaitannya adalah pernikahan dini yang dialami perempuan muda entah karena cinta lalu kawin lari atau karena dijodohkan orang tua kemudian akhirnya menikah dan hamil otomatis organ reproduksi bahkan mental dari perempuan muda ini belum siap sehingga bisa berakibat pada kesehatan janin dan bayi yang akan lahir tersebut. Kemudian kebiasaan masyarakat khususnya kaum pria yang memonopoli uang bantuan bahkan beras raskin yang diterima kemudian dijual, uang-uang tersebut digunakan untuk berfoya-foya tanpa mengingat anak istri dirumah dan keberlanjutan dari uang agar api didapur terus mengepul tetapi langsung dihabiskan sesegera mungkin. Tidak mengeneralisir permasalahan ini namun terdapat beberapa orang yang mempraktekkan hal tersebut sehingga timbul suatu pemikiran bahwa apakah orang telah lupa apa jati dirinya? Adakah orang tua/leluhur yang menderita stunting? yang hidupnya susah sampai harus minta-minta proyek kepemerintah? yang hidupnya berfoya-foya dipasar tidak melihat kesengsaraan ibu dan anak dirumah?. Akibatnya apa tingkat pendidikan rendah, SDM jebol, tingginya anak kelabur/aibon yang berkeliaran dipusat-pusat keramaian (pasar jibama, ropan market, jalan irian) semuanya ini akan berdampak pada regenerasi penerus Papua yang terus menurun. 

Untuk itu demi keberlangsungan hidup, tumbuh kembang yang baik pada anak sebagai penerus dimasa depan, maka pemerintah dalam hal ini yang berperan penting untuk mendorong keberpihakan pada ibu dan anak balita pada masa emas dan kritisnya yaitu 1000 hari pertama, dengan memberikan kebijakan yang setidaknya ibu dan anak agar mendapat pelayanan yang terbaik sehingga stunting pada anak dapat teratasi. Kemudian pengelolaan uang oleh masyarakat harus dilakukan dengan sadar dan mawas diri serta tidak berfoya-foya demi kesenangan sesaat sehingga besoknya bingung mau mengasih makan anak istri dengan apa, akibatnya anak kelaparan kurang gizi dan stunting. Dilain sisi masyarakatpun harus mendudukkan kembali pola kebiasaan, dan kearifan lokal yang telah turun-temurun diajarkan dari leluhur kita. Saat-saat ini orang lebih mengejar uang, harta, kekayaan dan kepentingan pribadi lainnya, hal-hal ini kemudian membutakan mata untuk melihat realitas yang ada dilingkungan sekitar yang mana banyak anak mengalami stunting, tingkat kesehatan ibu rendah karena dipaksa kerja berlebihan, dan lain sebagainya. Ini kemudian menjadi PR bersama bagaimana dapat merubah pola pikir masyarakat yang hanya mementingkan diri sendiri untuk kemudian peduli terhadap lingkungan sekitar karena pada dasarnya orang Papua sangat berjiwa sosialis dan sangat peduli terhadap sesama.


Sumber :

Agustus 2017, 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia Available on http://www.tnp2k.go.id/images/uploads/downloads/Binder_Volume2-1.pdf

Agustus 2018, Gerakan Nasional Pencegahan Stunting dan Kerjasama Kemitraan Multi Sektor Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia/ Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) available in 
https://www.am2018bali.go.id/UserFiles/kemenkeu/News/Paparan%20Stunting%20Kemenkeu%202018web.pdf

Abas Basuni Jahari, 6-8 Maret 2018,  PENURUNAN MASALAH BALITA STUNTING, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Available on http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/materi%20pra%20rakerkesnas%202018/Pakar%20Stunting.pdf


Minggu, 18 November 2018

Penyu Belimbing "WOMOM"

November 18, 2018 0 Comments
Hallo guys,,terhitung sudah genap dua bulan lamanya penulis tidak memberikan diari atau tulisan opini singkat, bukan apa-apa hanya sedikit sibuk dengan beberapa kegiatan yang kadang berfaedah kadang juga tidak berfaedah.

Pada postingan kali ini penulis ingin membagikan mengenai pengalaman mengikuti kegiatan "para-para pinang, pentas seni dan diskusi konservasi penyu belimbing" yang diadakan di Asrama Tambraw Yogyakarta. Kegiatan dilakukan pada hari rabu, 25 juli 2018 pukul 17.00-20.00 WIB dengan narasumber Bapak Yohanes Sundoy kegiatan dimulai dengan doa dan pemutaran film dokumenter mengenai konservasi penyu belimbing di Tambraw. Inti dari pemutaran film ini adalah telah diadakannya prosesi adat yang mana menghasilkan kembalinya penyu belimbing ke pantai setelah hampir 23 tahun yaitu dari 1992-2015 penyu belimbing tidak bertelur di pesisir pantai jamursba medi .

Menurut penjelasan bapak Yohanes yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melalukan konservasi penyu konon terdapat cerita rakyat bahwasanya terdapat sebuah keluarga yang bertengkar sehingga sang suami pergi meninggakan keluarganya melewati gunung dan hutan menuju pantai. Dia bernama rumah batu  bersama dengan anjing peliharaannya kemudian pada suatu hari anjing tersebut memakan penyu belimbing yang beliau sebut juga dewa laut. Sehingga heranlah dia karena sudah beberapa lama dewa laut tidak menampakkan diri dipantai. Maka pergilah dia menemui tua-tua adat dan berkata "mengapa dewa laut tidak menampakan muka dipantai" lalu berkatalah tua-tua adat bahwa beliau telah melakukan kesalahan sehingga harus melakukan adat untuk memanggil sang dewa laut alias penyu belimbing tersebut. Alhasil dewa laut pun datang dan rumah batu berjanji untuk menjaga dewa laut maka merekapun dikatakan seperti suami istri dan rumah batu menjadi seperti batu karang ditengah pantai dan disebelahnya terdapat batu karang yang mirip juga dengan punyu belimbing atau dewa laut.


Dari cerita rakyat ini sudah bisa diambil maknanya bagaimana konservasi penyu belimbing dilakukan di tambraw. Maka kearifan-kearifan lokal seperti ini harus dipertahankan dan dijaga agar hidup berdampingan dengan damai dan aman. Sehingga selama 20 tahun terakhir bapak Yohannes telah mempelajari dan mengajak masyarakat untuk memanggil kembali penyu belimbing dengan dilakukannya prosesi adat. Dan pada tahun 2015 pertama kalinya penyu belimbing kembali lagi ke pantai jamursba medi dan bertelur dipantai ini. Saat ini pantai jamusrba medi sudah disebut dengan nama jeen womom dan ditetapkan sebagai lokasi konservasi penyu baik itu penyu belimbing, penyu hijau, penyu sisik dan lekang. Womom berarti penyu dalam bahasa tambraw

Semoga bermanfaat
Wa..wa..wa..


Wawancara Berfaedah

November 18, 2018 0 Comments
Petikan judul pada postingan kali ini kurang lebih dapat merepresentasikan pengalaman saya pada saat diwawancarai oleh teman-teman dari UGM pada hari minggu, 6 Mei 2018 bertempat di gedung didaktos UKDW Yogyakarta.
Photo by: Muhammad subhi
"Yogotak hubuluk motok hanorogo" merupakan motto kabupaten jayawijaya yang memiliki arti hari esok harus lebih baik dari hari ini. Hal ini sangat merepresentasikan hasil diskusi dan tanya jawab kami. Pada saat itu saya pribadi dimintai smita salah seorang dari kelompok mahasiswa UGM untuk menjadi narasumber yang akan mereka wawancarai menyangkut tugas mereka mengenai "Identitas dan Multikulturalisme".
Photo by: Smita Hanaya
Kebetulan topik yang mereka ambil berkaitan dengan Papua, bagaimana mahasiswa Papua yang datang kejogja dengan latar belakang budaya yang berbeda dapat beradaptasi dan kenapa memilih jogja sebagai tempat untuk belajar dan banyak pertanyaan lainnya yang ditanyakan kepada saya. 

Intinya dari semua pertanyaan tersebut dan jawaban yang telah saya berikan mengarah pada suatu kebaikan dimana kita menginginkan perubahan yang baik untuk Papua kedepan nya.

Saya datang dan berkuliah dijogja sebagai representasi saudara-saudari saya yang di Papua secara umum dan diwamena secara khusus yang belum mendapat kesempatan untuk bersekolah entah itu putus sekolah, kewalahan dana sekolah, dan beragam masalah yang menyebabkan mereka tidak bersekolah. 
Photo by: Smita Hanaya
Untuk itu segala stigma negatif yang disematkan seperti orang Papua pengacau, suka minum, bodoh, tidak bisa apa-apa dan lain sebagainya tidak menurunkan niat saya untuk tetap menimbah ilmu di Jogja. Karena tidak semua kita orang Papua melakukan hal sama, hanya segelintir orang yang melakukannya namun menjadi tanggung jawab kita bersama OAP untuk menyadarkan saudara/I kita yang masih melakukan hal-hal yang salah. Kemudian masalah perbedaan budaya, perbedaan orang, lingkungan dan lain sebagainya dapat kita atur sendiri agar nyaman karena kenyamanan itu kita sendiri yang ciptakan.

Maka sekali lagi pada saat wawancara saya tekankan bahwa kita semua manusia yang diciptakan serupa dengan Tuhan mempunyai organ-organ tubuh yang sama termasuk otak yang sama untuk berpikir sehingga tidak ada orang bodoh dan pintar namun apakah ada niat untuk berbuat lebih baik untuk hari esok atau hanya bermalas-malasan dan nyaman dengan keadaan saat ini.

Kemudian melihat dari segi sosial politik dan ekonomi terbilang bahwa Papua masih jauh dibawah standard kota-kota lain di Indonesia. Hal ini dikarenakan kurangnya pemerataan pembangunan baik sarana prasarana maupun sumber daya manusia nya. Namun masalah yang lebih besar dari itu bahwa bangsa ini tidak bisa menutup mata atas kasus-kasus HAM yang terjadi Di tanah Papua. Walaupun telah dibangun jalan dan sarana prasarana yang baik serta sumber daya manusia yang sudah maju, tapi apakah kita OAP akan bertahan sampai 40-50 tahun kedepan jika jumlah penduduknya jauh lebih banyak transmigrant dari luar Papua dan OAP banyak meninggal karena miras dan HIV/AIDS.

Akhir kata Mari kita bersama gandeng tangan rekatkan solidaritas dan sadar diri bahwa kita mempunyai tanggung jawab yang besar untuk membangun Papua dihari esok jauh lebih baik dari hari ini.

Semoga bermanfaat
Wa..wa..wa..











My Daddy My Hero

November 18, 2018 0 Comments
Gambar : Ilustrasi (Google)
Syalom guys... Semua dari kita pasti punya orang tua yang terdiri dari ayah dan ibu. Mereka membangun suatu hubungan yang kemudian melahirkan buah cinta mereka yaitu anak-anak. 

Pada postingan Kali ini saya ingin membahas tentang ayah. Bagi saya ayah mempunyai peran sangat penting bagi kehidupan saya walaupun ayah saya dipanggil Tuhan tahun 2007 pada waktu usia saya baru menginjak 11 tahun. 

Ayah saya bukan orang besar pejabat pemangku kuasa dan lain sebagainya namun beliau merupakan raja di hati saya. Bagi saya kerendahan hati,kesabaran, dan kemurahan hati beliau membuat banyak orang sayang dan peduli kepadanya. 

Ayah sosok yang membuat saya belajar bahwa kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan, namun dengan kebaikan. Kemarahan tidak harus dibalas dengan kemarahan namun dengan senyuman. Caci maki tidak harus dibalas dengan caci maki namun dengan tutur kata yang baik. 

Dengan sepeda ontelnya beliau selalu mengantarkan saya ke TK. Effata dan SD Impress Mulele Wamena dengan tidak kenal lelah setelah pagi hari menyelesaikan pekerjaan kebun disamping rumah kemudian mengantarkan saya dan masuk kantor Perindagkop. 

Dari beliau saya belajar artinya kerja keras dan semangat hidup tanpa pamrih dan pantang menyerah. Ketiga anaknya (kakak saya) bersekolah di pulau jawa pada tahun 90-an dan beliau masih bisa mengelola keuangan walaupun dengan gali lobang tutup lobang alias utang. 

Sekarang saat mereka sudah sukses hasil keringat beliau belum benar-benar beliau terima Karena telah pergi. Namun walau bagaimanapun bagi kami anak-anaknya, beliau selalu hidup dihati kami dan berjalan bersama kami mengarahkan kami sehingga tidak jatuh atau keluar dari jalur maka jalan kami lurus dan tidak berliku-liku. 

 Tulisan ini saya persembahkan untuk ayah-ayah maupun calon ayah-ayah hebat yang sangat setia dan pekerja keras dalam keluarga, membangun setiap anggota keluarganya menjadi pribadi yang baik dan berkarakter baik, berakhlak dan berbudi pekerti.

Pameran Poster "BIofarmasi & Analisa Resiko Kesehatan" di Gedung IAMA UKDW

November 18, 2018 0 Comments
Foto : Usai Pameran
Syalom guys.. 
Pada blog kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai kegiatan pameran yang dilakukan di Gedung Iama Universitas Kristen Duta Wacana Pada hari Senin, 21 Mei 2018. 

Kegiatan ini dilaksanakan oleh mahasiswa bioteknologi angkatan 2015 dalam rangka memenuhi tugas matakuliah Biofarmasi dan Analisa Resiko Kesehatan yang di ampuh Dosen Matakuliah drh. Djohan MEM.Ph,D. 

Dimulai dari pukul 08.00-17.00 WIB kegiatan ini banyak memberikan informasi yang berguna bagi mahasiswa bioteknologi yang datang mengikuti kegiatan pameran termasuk saya. 

Dari hampir dua puluhan kelompok yang mengikuti pameran saya hanya berkesempatan untuk mendengarkan penjelasan dari 4 kelompok. 

Kelompok pertama terdiri dari 3 orang yaitu Josefina Lesnusa, Junengsi C. Dakhoklory dan Natalia Sibariang. Mereka memilih topik "Obat Batuk Basah" untuk matakuliah biofarmasi dan "Cacing dalam Sarden" untuk matakuliah ARK. 

Kelompok kedua terdiri dari 3 orang yaitu Anngriani Hanni, Yohani Aprilia S dan Claudia Astari. Kelompok ini memilih topik "Obat Diare" untuk matakuliah biofarmasi dan "Residu Antibiotik pada Daging Ayam" untuk matakuliah ARK.

Kelompok ketiga terdiri dari 4 orang yaitu Tecla Annabella, Awasien Matrruty, Eka Kurniaty dan Yubelina Imbenay. Topik yang dipilih yaitu "Ottopain Obat Tetes Telinga" untuk matakuliah biofarmasi dan "1,4 Dikholorobenzene di Rumah dan Kantor" untuk matakuliah ARK. 
Photo by: Josefina

Kemudian kelompok terakhir terdiri dari 3 orang yaitu Marien A.S.P, Dissa Christalonika dan Maria H. Ohoira. Mereka membahas tentang "Obat Anti Penuaan" untuk matakuliah biofarmasi dan "Pemaparan Dioxin Pada Pembalut" untuk matakuliah ARK. 

Disini saya tidak akan membahas lebih detail kesemua topik yang kami diskusikan namun secara umum akan saya jelaskan mengenai apa saja yang kami pelajari dengan bertukar informasi dari poster yang telah mereka buat. 

Pada poster biofarmasi secara umum keempat kelompok ini harus mengetahui bahan aktif dari setiap obat yang mereka bahas, kemudian ada incipient atau bahan tambahan obat dan fungsinya seperti apa. Selain itu dalam ilmu biofarmasi ada FARMAKOKINETIKA dan FARMAKODINAMIKA dari semua obat. Kedua hal tersebut menjelaskan masuknya obat dari absospsi hingga eliminasi dan respon tubuh terhadap obat yang masuk kedalam tubuh apakah menyebabkan efek terapeutik atau justru sebaliknya menyebabkan kontraindikasi. 

Kemudian pada poster ARK (Analisa Resiko Kesehatan) keempat kelompok penyaji poster menyampaikan topik yang berbeda-beda namun secara umum tidak terlepas dari bahan-bahan berbahaya apa saja yang dapat menyebabkan efek jangka pendek maupun panjang pada manusia yang terpapar sumber pencemaran. 
Photo by: Claudya

Pada kelompok pertama yang membahas "Cacing dalam Sarden" sudah terjadi kasus di Riau bahwa Badan POM telah menarik sarden yang telah mengandung cacing agar masyarakat tidak terkena efek samping dari sarden yang telah mengandung cacing ini. 

Diduga cacing tersebut berasal dari ikan yang digunakan dalam pembuatan sarden yang tidak mati pada saat dimasak dengan suhu tinggi, namun tidak menutup kemungkinan bahwa kontaminan cacing dapat masuk melalui bahan-bahan tambahan dalam sarden seperti tomat bawang dan lain sebagainya. Kemudian pada kelompok 2 yang membahas tentang "Residu Antibiotik pada Daging Ayam" menyebutkan terdapat beberapa antibiotik yang sering dipakai pedagang ayam agar daging ayam yang dijual tetap baik. 

Namun penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat menyebabkan efek pada manusia yang memakannya karena dapat menyebabkan gagal ginjal dan gangguan organ tubuh lainnya. Sehingga harus pilah pilih ayam yang baik jika kepasar karena banyak pedagang-pedagang nakal yang tidak mengikuti aturan dan menggunakan antibiotik pada ayam secara berlebihan. Kelompok ketiga membahas tentang "1,4 Dikhrolorobenzene di Rumah dan Kantor" yang mana bahan ini sering digunakan pada bahan-bahan seperti kapur barus, pengharum ruangan, dan juga pada bahan-bahan pangan. 
Photo by: Efraim
Pemaparan yang terus menerus terjadi dan melebihi batas normal baik melalui inhalasi maupun oral dapat menyebabkan kerusakan hati dan ginjal. Kemudian kelompok terakhir membahas tentang "Dioxin pada Pembalut" telah kita ketahui bersama pembalut setiap bulan digunakan oleh para wanita diseluruh belahan dunia. Ternyata terdapat salah satu bahan berbahaya yang digunakan dalam pembuatan pembalut yaitu Dioxin, bahan ini digunakan untuk memutihkan bahan kertas yang digunakan dalam pembuatan pembalut. 

Efek sampingnya yaitu dapat menyebabkan kanker serviks untuk itu melihat fenomena kanker serviks yang banyak di Indonesia ada baiknya pemerintah melalui lembaga pendidikan dapat melakukan penelitian mengenai kandungan dioxin pada pembalut-pembalut yang beredar di Indonesia. Karena belum ada standar penggunaan dioxin di Indonesia khusunya pada pembalut, karena bahkan di luar negeri telah ditulis pembalut ini free dioxin. Akhir kata terimakasih buat mahasiswa bioteknologi angkatan 2015 yang telah menyelenggarakan pameran dan sudah berbagi ilmu yang dipelajari. 
Kemudian terimakasih juga kepada bapak Djohan selaku pengampuh matakuliah yang telah memilih topik-topik yang sangat berguna dan bermanfaat untuk dipelajari mahasiswa dan kemudian berguna untuk kehidupan sehari-hari.  

Semoga bermanfaat 
wa,,wa,,wa,,😊