Tiap tahunnya tepat pada hari ini 20 November, diperingati sebagai hari anak sedunia, Berbicara mengenai hari anak tentu tidak terlepas dari situasi dan kondisi anak-anak di seluruh belahan dunia, termasuk anak-anak di Papua. Saat ini issue/masalah yang sering dibicarakan dan menjadi tantangan bagi keberlangsungan hidup anak adalah STUNTING. Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang menyebabkan tinggi badan anak dibawah standar seusianya atau yang sering disebut "Anak Kerdil". Dari data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) "100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) " Volume II yang diterbitkan tahun 2017. Beberapa kabupaten/kota di Papua baik itu Papua Barat maupun Papua termasuk dalam kategori kota prioritas intervensi karena tingginya angka stunting pada anak seperti pada tabel berikut ini :
Dari data ini dapat dilihat kabupaten jayawijaya tercatat memiliki jumlah balita stunting hingga lebih dari 11 ribu jiwa, dibandingkan kabupaten lain yang angkanya dibawah 8 ribu jiwa. Namun tidak menutup kemungkinan adanya penambahan data karena kondisi lingkungan di Papua yang dapat pula membatasi tim medis untuk mendata dan kendala-kendala lainnya. Kemudian untuk angka kemiskinan menurut hemat saya sudah menjadi rahasia umum bahwa setelah otsus berjalan ditanah Papua, angka kemiskinan dihampir semua kabupaten/kota di Papua sangat tinggi. Papua dan Papua Barat menduduki No 1 dan 2 untuk jumlah penduduk miskin dari 34 provinsi yang ada di seluruh Indonesia. Kemudian data terbaru pada tahun ini yang diterbitkan agustus 2018 terjadi peningkatan jumlah kabupaten/kota prioritas dalam data TNP2K namun belum secara spesifik dijelaskan angka stunting dan kemiskinan di setiap kabupaten/kota tersebut. (Sedikit koreksi titik provinsi papua dan papua barat salah, mungkin editor ngantuk😉)
Selanjutnya dari data-data yang telah dilaporkan ini apa sih penyebab atau masalah utama anak stunting dan berada di bawah garis kemiskinan. Ada dua hal penyebab yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan saling berkaitan. Faktor intrinsik yaitu pentingnya kehidupan anak pada 1000 hari pertama anak yang merupakan masa "EMAS" dan Kritis bagi tumbuh kembang anak penjelasan selengkapnya pada gambar berikut
Sedangkan faktor ekstrinsik lebih luas dari pada itu karena melibatkan segala aspek kehidupan mulai dari bagaimana lingkungan dan pelayanan serta fasilitas yang mendukung kesehatan masyarakat terjamin khususnya ibu dan balita, kemudian akibat berapa di bawah garus kemiskinan menyebabkan ketersediaan pangan dalam rumah tangga tidak dapat dipenuhi yang berdampak pada kurangnya asupan gizi dalam keluarga, dan masalah paling dasar adalah situasi ekonomi dan politik dimana orang kesulitan untuk mendapat lapangan pekerjaan yang berakibat tidak dapat menyoking dan mengontrol pemasukan dan pengeluaran dalam keluarga sehingga hidupnya pas-pasan dan tidak dapat mencukupi kebutuhan gizi ibu dan anak yang sangat rentan pada masa emas dan kritis .
Tetapi jika berbicara real di Papua khususnya di Jayawijaya yang mana angka stunting balitanya paling tinggi tersebut disebabkan oleh pernikahan dini (usia dibawah 18 tahun) dan juga kebiasaan masyarakat yang sudah terlalu keenakan dengan beras raskin, bantuan langsung tunai (BLT), dana desa dsb. Hal ini yang sering saya temui menjadi masalah utama hingga menyebabkan korban terutama pada kaum perempuan dan anak. Kaitannya adalah pernikahan dini yang dialami perempuan muda entah karena cinta lalu kawin lari atau karena dijodohkan orang tua kemudian akhirnya menikah dan hamil otomatis organ reproduksi bahkan mental dari perempuan muda ini belum siap sehingga bisa berakibat pada kesehatan janin dan bayi yang akan lahir tersebut. Kemudian kebiasaan masyarakat khususnya kaum pria yang memonopoli uang bantuan bahkan beras raskin yang diterima kemudian dijual, uang-uang tersebut digunakan untuk berfoya-foya tanpa mengingat anak istri dirumah dan keberlanjutan dari uang agar api didapur terus mengepul tetapi langsung dihabiskan sesegera mungkin. Tidak mengeneralisir permasalahan ini namun terdapat beberapa orang yang mempraktekkan hal tersebut sehingga timbul suatu pemikiran bahwa apakah orang telah lupa apa jati dirinya? Adakah orang tua/leluhur yang menderita stunting? yang hidupnya susah sampai harus minta-minta proyek kepemerintah? yang hidupnya berfoya-foya dipasar tidak melihat kesengsaraan ibu dan anak dirumah?. Akibatnya apa tingkat pendidikan rendah, SDM jebol, tingginya anak kelabur/aibon yang berkeliaran dipusat-pusat keramaian (pasar jibama, ropan market, jalan irian) semuanya ini akan berdampak pada regenerasi penerus Papua yang terus menurun.
Untuk itu demi keberlangsungan hidup, tumbuh kembang yang baik pada anak sebagai penerus dimasa depan, maka pemerintah dalam hal ini yang berperan penting untuk mendorong keberpihakan pada ibu dan anak balita pada masa emas dan kritisnya yaitu 1000 hari pertama, dengan memberikan kebijakan yang setidaknya ibu dan anak agar mendapat pelayanan yang terbaik sehingga stunting pada anak dapat teratasi. Kemudian pengelolaan uang oleh masyarakat harus dilakukan dengan sadar dan mawas diri serta tidak berfoya-foya demi kesenangan sesaat sehingga besoknya bingung mau mengasih makan anak istri dengan apa, akibatnya anak kelaparan kurang gizi dan stunting. Dilain sisi masyarakatpun harus mendudukkan kembali pola kebiasaan, dan kearifan lokal yang telah turun-temurun diajarkan dari leluhur kita. Saat-saat ini orang lebih mengejar uang, harta, kekayaan dan kepentingan pribadi lainnya, hal-hal ini kemudian membutakan mata untuk melihat realitas yang ada dilingkungan sekitar yang mana banyak anak mengalami stunting, tingkat kesehatan ibu rendah karena dipaksa kerja berlebihan, dan lain sebagainya. Ini kemudian menjadi PR bersama bagaimana dapat merubah pola pikir masyarakat yang hanya mementingkan diri sendiri untuk kemudian peduli terhadap lingkungan sekitar karena pada dasarnya orang Papua sangat berjiwa sosialis dan sangat peduli terhadap sesama.
Sumber :
Agustus 2017, 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting) Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia Available on http://www.tnp2k.go.id/images/uploads/downloads/Binder_Volume2-1.pdf
Agustus 2018, Gerakan Nasional Pencegahan Stunting dan
Kerjasama Kemitraan Multi Sektor Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia/
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) available in
https://www.am2018bali.go.id/UserFiles/kemenkeu/News/Paparan%20Stunting%20Kemenkeu%202018web.pdf
Abas Basuni Jahari, 6-8 Maret 2018, PENURUNAN MASALAH BALITA
STUNTING, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Available on http://www.depkes.go.id/resources/download/info-terkini/materi%20pra%20rakerkesnas%202018/Pakar%20Stunting.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar