Minggu, 18 November 2018

# Experience # Local wisdom

Penyu Belimbing "WOMOM"

Hallo guys,,terhitung sudah genap dua bulan lamanya penulis tidak memberikan diari atau tulisan opini singkat, bukan apa-apa hanya sedikit sibuk dengan beberapa kegiatan yang kadang berfaedah kadang juga tidak berfaedah.

Pada postingan kali ini penulis ingin membagikan mengenai pengalaman mengikuti kegiatan "para-para pinang, pentas seni dan diskusi konservasi penyu belimbing" yang diadakan di Asrama Tambraw Yogyakarta. Kegiatan dilakukan pada hari rabu, 25 juli 2018 pukul 17.00-20.00 WIB dengan narasumber Bapak Yohanes Sundoy kegiatan dimulai dengan doa dan pemutaran film dokumenter mengenai konservasi penyu belimbing di Tambraw. Inti dari pemutaran film ini adalah telah diadakannya prosesi adat yang mana menghasilkan kembalinya penyu belimbing ke pantai setelah hampir 23 tahun yaitu dari 1992-2015 penyu belimbing tidak bertelur di pesisir pantai jamursba medi .

Menurut penjelasan bapak Yohanes yang telah mendedikasikan hidupnya untuk melalukan konservasi penyu konon terdapat cerita rakyat bahwasanya terdapat sebuah keluarga yang bertengkar sehingga sang suami pergi meninggakan keluarganya melewati gunung dan hutan menuju pantai. Dia bernama rumah batu  bersama dengan anjing peliharaannya kemudian pada suatu hari anjing tersebut memakan penyu belimbing yang beliau sebut juga dewa laut. Sehingga heranlah dia karena sudah beberapa lama dewa laut tidak menampakkan diri dipantai. Maka pergilah dia menemui tua-tua adat dan berkata "mengapa dewa laut tidak menampakan muka dipantai" lalu berkatalah tua-tua adat bahwa beliau telah melakukan kesalahan sehingga harus melakukan adat untuk memanggil sang dewa laut alias penyu belimbing tersebut. Alhasil dewa laut pun datang dan rumah batu berjanji untuk menjaga dewa laut maka merekapun dikatakan seperti suami istri dan rumah batu menjadi seperti batu karang ditengah pantai dan disebelahnya terdapat batu karang yang mirip juga dengan punyu belimbing atau dewa laut.


Dari cerita rakyat ini sudah bisa diambil maknanya bagaimana konservasi penyu belimbing dilakukan di tambraw. Maka kearifan-kearifan lokal seperti ini harus dipertahankan dan dijaga agar hidup berdampingan dengan damai dan aman. Sehingga selama 20 tahun terakhir bapak Yohannes telah mempelajari dan mengajak masyarakat untuk memanggil kembali penyu belimbing dengan dilakukannya prosesi adat. Dan pada tahun 2015 pertama kalinya penyu belimbing kembali lagi ke pantai jamursba medi dan bertelur dipantai ini. Saat ini pantai jamusrba medi sudah disebut dengan nama jeen womom dan ditetapkan sebagai lokasi konservasi penyu baik itu penyu belimbing, penyu hijau, penyu sisik dan lekang. Womom berarti penyu dalam bahasa tambraw

Semoga bermanfaat
Wa..wa..wa..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar